Berbagi Pengalaman Perjuangan Serikat, Tentang Asuransi Rawat Inap (ASRI) di PT Monysaga Prima

Berbagai Pengalaman Perjuangan Serikat, Tentang Asuransi Rawat Inap (ASRI) di PT Monysaga Prima Di tulis oleh : Tim Diklat dan Propaganda ...

Berbagai Pengalaman Perjuangan Serikat, Tentang Asuransi Rawat Inap (ASRI) di PT Monysaga Prima

Di tulis oleh : Tim Diklat dan Propaganda SBMM GSBI PT Monysaga Prima

Forum Perundingan soal ASRI antara Pimpinan SBMM GSBI dengan pihak menejemen PT Monysaga Prima

Di lingkungan perusahaan PT Monysaga Prima ada sebuah program asuransi untuk rawat inap yang selanjutnya di beri nama ASRI (Asuransi Rawat Inap). ASRI ini bertujuan untuk membantu para buruh dan keluarganya yang membutuhkan perawatan di Rumah Sakit (Rawat Inap) dalam rangka meningkatkan pelayanan pemeliharaan kesehatan sebagai salah satu upaya meningkatkan produktifitas kerja dan ketenangan kerja.

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial yang selanjutnya disingkat BPJS adalah badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan sosial.

Sementara itu jaminan sosial adalah salah satu bentuk perlindungan sosial untuk menjamin seluruh rakyat agar dapat memenuhi kebutuhan dasar hidupnya yang layak berdasarkan undang-undang nomor 24 tahun 2011 tentang Badan Pengelola Jaminan Sosial.

Asuransi kesehatan adalah sebuah jenis produk asuransi yang secara khusus menjamin atau memberi penggantian biaya kesehatan bagi para anggotanya. Secara garis besar ada dua jenis perawatan dalam asuransi kesehatan, yaitu rawat inap dan rawat jalan.

Sejarah Lahirnya ASRI
Sebelum lahirnya ansuransi rawat inap (ASRI), di lingkungan perusahaan PT. Monysaga Prima sudah ada jaminan kesehatan yang disediakan oleh perusahaan khusus untuk rawat inap yang diperuntukkan bagi seluruh buruhnya.

Karena minimnya nilai plafon rawat inap yang disediakan oleh perusahaan dan dianggap tidak layak lagi maka buruh di PT. Monysaga Prima melalui Serikat Pekerja meminta kepada perusahaan agar jaminan kesehatan rawat inap ini bisa menjadi lebih baik. Buruh PT. Monysaga Prima melalui perwakilannya di Serikat Pekerja kemudian melakukan negoisasi dengan pihak perusahaan.

Setelah melakukan beberapa kali perundingan akhirnya disepakatilah untuk dibentuknya program asuransi internal rawat inap yang diberi nama ASRI.

Yang menjadi peserta anggota ASRI adalah seluruh buruh tetap dilingkungan kerja PT. Monysaga Prima (staff dan non staff) yang telah memiliki masa kerja minimal 1 (satu) tahun.

Bagi buruh yang belum mencapai 1(satu) tahun masa kerjanya maka berlaku program kesehatan yang disediakan oleh perusahaan (program pagu 1 jt/tahun).

Program ASRI berlaku untuk buruh dan keluarganya dengan 1(satu) istri yang sah dan maksimal 3 (tiga) anak yang belum menikah dan belum bekerja dan belum berusia 21 (dua puluh satu) tahun.

Program ansuransi rawat inap (ASRI) untuk pertama kalinya yaitu periode 1 Oktober 2005 s/d 30 September 2006 lalu.

Dengan adanya program ASRI ini sedikit banyaknya sudah membantu para buruh dilingkungan kerja PT. Monysaga Prima.

Diawal terbentuknya ASRI terdapat 3 (tiga) pilihan paket yang bisa dipilih untuk pesertanya. Dari tiap-tiap paket ini dibedakan dari besaran premi yang dibayarkan dan besaran plafon yang didapat. Pilihan ketiga paket tersebut adalah sebagai berikut:

1.    Paket I dengan plafon 6 juta rupiah
2.    Paket II dengan plafon 9 juta rupaih
3.    Paket III dengan plafon 12 juta rupiah

Besaran premi yang dibayarkan karyawan atau disebut PKn adalah:
1.    Paket I Rp. 30.000 /bln/peserta
2.    Paket II Rp. 45.000 /bln/peserta
3.    Paket III Rp. 60.000 /bln/peserta

Besaran premi yang dibayarkan perusahaan atau disebut PKp adalah:
1.      Paket I Rp. 22.500 /bln/peserta
2.      Paket II Rp. 34.000 /bln/peserta
3.      Paket III Rp. 45.000 /bln/peserta

Total dana program ASRI adalah jumlah dari PKp seluruh peserta dalam 1 tahun + jumlah PKn seluruh peserta dalam 1 tahun. Untuk penggunaannya yang didahulukan dipakai adalah jumlah total PKpnya terlebih dahulu baru kemudian jumlah PKn.

Dari mulai awal dibentuknya program ASRI sampai dengan sekarang, sudah mengalami beberapa perubahan. Perubahan program ASRI yang paling tidak menguntungkan bagi buruh adalah terjadi pada periode  tahun 2009-2010. Pada periode ini dimana yang awalnya ada 3 pilihan paket ASRI berubah dan dipangkas hanya menjadi 1 paket saja, yaitu hanya plafon 9 juta saja. Saat itu sempat terjadi aksi penolakan dengan keputusan manajemen perusahaan yang merubah aturan main ASRI, namun karena minimnya konsolidasi dan pemahaman yang kurang dalam berserikat akhirnya buruh dan serikat pekerja yang ada pada saat itu menerima keputusan manajemen tersebut dengan sangat kecewa.

Dari pengalaman-pengalaman dan pembelajaran untuk menambah pengetahuan tentang program ASRI maka pada periode tahun 2011-2012 perjuangan organisasi berhasil menaikan plafon ASRI dari 9 (sembilan) juta menjadi 12,5 (dua belas juta lima ratus ribu) rupiah.

Pada program ASRI periode tahun 2015-2016 perusahaan berusaha menghilangkan program ASRI tersebut karena adanya program BPJS Kesehatan yang mana adalah wajib kepersertaannya namun kami menolak karena kami menganggap BPJS Kesehatan masih belum maksimal dalam pelayanannya.

Melalui Organisasi SBMM GSBI, berupaya semaksimal mungkin agar program ASRI ini jangan sampai dihilangkan walaupun sudah ada BPJS Kesehatan. Perundingan demi perundingan dilakukan dengan pihak perusahaan, berbagai argumen di kemukakan dari masih carut-marutnya pelayanan system jaminan kesehatan nasional BPJS Kesehatan dan bagaimana akibatnya bila program ASRI dihapuskan oleh perusahaan PT Monysaga Prima.

Pihak perusahaan pun tetap dengan pendirian awalnya bahwa ASRI harus dihilangkan dengan alasan perusahaan tidak mampu membayar bila harus menjalankan BPJS Kesehatan yang diwajibkan pemerintah berbarengan dengan program ASRI.

“Tekanan demi tekanan kita berikan kepada pihak perusahaan agar ASRI tetap ada, salah satunya dengan melakukan konsolidasi massa buruh  PT. Monysaga Prima untuk mengawal kami saat berunding dengan pihak manajemen perusahaan dengan maksud memberi tekanan kepada pihak manajemen. Walaupun kami sudah melakukan seperti itu namun pihak manajemen tetap kekeh dengan keputusannya”.

Pada puncaknya di perundingan terakhir, kami dan seluruh buruh sepakat bila tuntutan tidak diberikan akan melakukan mogok kerja, namun pihak perusahaan menganggap hanya gertakan saja. Setelah tim perunding serikat keluar dari perundingan dan tidak ada kesepakatan sebagaimana kesepakatan dan instruksi awal seluruh buruh yang masih bekerja keluar dan melakukan mogok kerja. Melihat hal itu pihak manajemen perusahaan cukup terkejut karena ternyata sikap buruh dan serikat buruh tidak main-main dan pihak manajemen langsung kembali mengajak kemeja perundingan dan kurang dari 1 (satu) jam akhirnya pihak manajemen perusahaanpun sepakat namun dengan catatan untuk periode tahun berikutnya program ASRI ada peninjauan kembali. Dengan disepakatinya program ASRI tersebut para buruhpun bekerja kembali seperti biasa

Untuk program ASRI periode tahun 2016-2017 awalnya perusahaan juga akan mencoba untuk menghilangkan. Dalam perjuangan mempertahankan program ASRI di tahun 2016-2017 kami sudah mulai bergabung kepada GSBI dan untuk kepengurusan ditingkat perusahaan diberi nama PTP.SBMM-GSBI PT. MSP. Dengan bergabungnya kami kepada GSBI kemampuan kami dan seluruh buruh di PT. Monysaga Prima makin bertambah dengan adanya pendidikan dan pelatihan bagaimana cara berorganisasi yang baik dan benar.

Perjuangan program ASRI periode inipun tidak mudah, sama seperti periode-periode sebelumnya yaitu butuh perjuangan dari seluruh buruh di PT. Monysaga Prima. Perundingan demi perundingan dijalani dan tawar-menawar jumlah plafon yang akan disepakati. Kami tetap bertahan dengan plafon 12,5 juta yang sudah ada tanpa dikurangi sedikitpun karena dengan plafon 12,5 juta saja kami anggap masih kurang tapi pihak manajemen malah ingin mengurangi. Setelah sampai dengan 6 (enam) kali perundingan yang alot dan karena dukungan dari dalam (seluruh buruh PT. Monysaga Prima) maupun dari luar (rekan-rekan anggota GSBI) yang ada di wilayah Bekasi dan daerah-daerah lain, akhirnya program ASRI periode 2016-2017 tetap ada dan nilai plafon tetap 12,5 juta tanpa ada pengurangan.

Ini kami anggap kemenangan kecil atas perjuangan yang kami lakukan bersama dengan anggota dan kaum buruh PT Monysaga Prima.

Poto: Konsolidasi organisasi SBMM GSBI PT Monysaga Prima yang langsung di Pimpinan Ketua SBMM GSBI
Program ASRI ini adalah berdasarkan system reimburse (dibayarkan dulu oleh buruh baru klaim) dengan pembayarannya 3-7 hari kerja. Dengan system reimburse ini para peserta ASRI mengeluhkan dana yang harus dikeluarkan dari kantong pribadi, itupun kalau ada. Dengan alasan itulah kami dari perwakilan buruh melalui serikat SBMM GSBI berusaha melakukan lobby beberapa rumah sakit yang bisa diajak kerjasama dengan program ASRI ini. Bila sudah ada kerjasama dengan pihak rumah sakit maka peserta ASRI dapat dengan mudah mendapatkan pelayanan rumah sakit tersebut untuk rawat inap tanpa keluar biaya sepeserpun sesuai dengan plafon ASRI. Untuk sementara rumah sakit yang sudah bekerjasama untuk program ASRI adalah Rumah Sakit Ananda dan Rumah Sakit Anna Medika.

Organisasi SBMM-GSBI PT Monysaga Prima memilih kedua rumah sakit tersebut sebagai mitra dari program ASRI karena sebelumnya telah dilakukan survey dimana domisili dari peserta program ASRI paling banyak berada atau domisi adalah di wilayah dekat kedua rumah sakit tersebut.

Perjuangan organisasi tentu tidak berhenti sampai disitu. Kami sadar sekarang ini kami sudah mempunyai 2 (dua) asuransi rawat inap yaitu ASRI dan BPJS Kesehatan dimana keduanya kita harus membayar premi.

ASRI Salah Satu Solusi Memperbaiki BPJS Kesehatan dengan System COB

Bila kita pakai ASRI saja dengan plafon 12,5 juta /tahun kayaknya masih kurang sedangkan bila kita pakai BPJS pelayanannya masih belum maksimal. Kemudian kita mencoba untuk mencari solusi dan akhirnya kita ditawarkan suatu program BPJS yaitu COB (Coorporation Off Benefit).

COB adalah sebuah program dimana bisa dilakukannya dobel klaim antara asuransi BPJS Kesehatan dan asuransi pribadi.

Intinya dengan adanya COB ini maka pembayaran bisa dilakukan dari BPJS Kesehtan dan dari ASRI.

Perlu diketahui bahwa BPJS kesehatan memberlakukan tarif standar BPJS yang dikenal dengan nama InaCBges dimana tarif ini adalah tarif standar BPJS Kesehatan sedangkan tarif rumah sakit regular biasanya diatas tarif BPJS Kesehatan.

Jadi dengan adanya system COB ini bagi peserta ASRI dan juga peserta BPJS Kesehatan pembayaran yang dibebankan ke program ASRI adalah selisih dari tarif regular rumah sakit dikurangi tarif dari BPJS Kesehatan.

Contoh: “Ada pasien dirawat di RS. Ananda selama 6 (enam) hari dengan diagnose penyakit DBD dan biaya keseluruhan rumah sakit adalah Rp. 3,3 juta. Setelah diklaim kepada BPJS ternyata untuk DBD berdasarkan InaCBges hanya tercover Rp. 2,2 juta maka yang sisanya yang dibebankan pada ASRI.“

Dengan demikian asuransi BPJS Kesehatan dan program ASRI dapat berjalan beriringan dan premi yang kita bayarkan pun tidak sia-sia. Selain itu plafon ASRI bisa ditekan pengeluarannya.

Untuk kedepannya organisasi berupaya agar program ASRI ini dapat terus berlanjut selama kita masih bekerja di PT. Monysaga Prima dan tanpa harus merasa takut program ASRI dihilangkan oleh perusahaan.

Kita sebagai organisasi juga akan berusaha agar plafon ASRI bisa naik untuk tahun-tahun yang akan datang, sedangkan untuk rumah sakit yang ada kerjasamanya kita berusaha untuk lebih banyak lagi.
PT Monysaga Prima adalah perusahaan yang memproduksi sektor makanan dan minuman, perusahaan PT Monysaga Prima beralamat di Jalan Raya Bekasi KM.27, Pondok Ungu Kota Bekasi Jawa Barat Indonesia.

Organisasi Pimpinan Tingkat Perusahaan Serikat Buruh Makanan dan Minuman yang selanjutnya disingkat PTP.SBMM-GSBI PT. Monysaga Prima adalah kelanjutan dan atau perubahan dari Pimpinan Basis SBMM-FSBDSI PT Monysaga Prima yang dideklarasikan di kota Bekasi pada tahun 2013 yang tercatat di kantor Disnaker Kota Bekasi tertanggal 19 Februari 2013. Sementara bentuk organisasi Serikat Buruh Makanan dan Minuman Gabungan Serikat Buruh Indonesia PT. Monysaga Prima adalah Serikat Buruh yang menghimpun potensi buruh dilingkungan kerja PT. Monysaga Prima.

Demikianlah paparan yang dapat organisasi kami sampaikan semoga bisa menjadi bahan pengetahuan dan informasi yang baik terkait kedudukan ansuransi rawat inap (ASRI) kepada seluruh buruh anggota SBMM-GSBI PT Monysaga Prima dan harapannya kedepan dapat memperoleh perbaikan terkait Ansuransi Rawat Inap (ASRI) dilingkungan kerja PT Monysaga Prima. (@sbmgsbi2016)

Salam Demokrasi Sejati!!
Salam Demokrasi Nasional!!
Galang Solidaritas lawan Penindasan!!
Hidup Buruh!!! Hidup Buruh!!!
Hidup Buruh!!!

Posting Komentar

  1. Assalamu alaikum warohmatullahi wabarakatu.
    Saya ingin berbagi cerita siapa tau bermanfaat kepada anda bahwa saya ini seorang TKI dari johor bahru (malaysia) dan secara tidak sengaja saya buka internet dan saya melihat komentar bpk hilary joseph yg dari hongkong tentan MBAH WIRANG yg telah membantu dia menjadi sukses dan akhirnya saya juga mencoba menghubungi beliau dan alhamdulillah beliau mau membantu saya untuk memberikan nomer toto 6D dr hasil ritual beliau. dan alhamdulillah itu betul-betul terbukti tembus dan menang RM.457.000 Ringgit selama 3X putaran beliau membantu saya, saya tidak menyanka kalau saya sudah bisa sesukses ini dan ini semua berkat bantuan MBAH WIRANG,saya yang dulunya bukan siapa-siapa bahkan saya juga selalu dihina orang dan alhamdulillah kini sekaran saya sudah punya segalanya,itu semua atas bantuan beliau.Saya sangat berterimakasih banyak kepada MBAH WIRANG atas bantuan nomer togel Nya. Bagi anda yg butuh nomer togel mulai (3D/4D/5D/6D) jangan ragu atau maluh segera hubungi MBAH WIRANG di hendpone (+6282346667564) & (082346667564) insya allah beliau akan membantu anda seperti saya...






    BalasHapus

Silahkan tinggalkan komentar dan jangan meninggalkan komentar spam.

emo-but-icon

Terbaru

Populer

item