GSBI dan MAY DAY (Hari Buruh SeDunia 1 Mei 2011)

Tidak lama lagi seluruh klas buruh dan rakyat pekerja di seluruh dunia termasuk di Indonesia sudah dipastikan akan merayakan satu peristiwa ...

Tidak lama lagi seluruh klas buruh dan rakyat pekerja di seluruh dunia termasuk di Indonesia sudah dipastikan akan merayakan satu peristiwa bersejarah dalam tradisi berjuang yang sengit terhadap klas penghisap dan penindas. Peristiwa itu adalah perayaan hari buruh sedunia 1 Mei (MayDay), yang selalu di peringati secara meriah melalui berbagai kegiatan aksi protes dalam bentuk demonstrasi, seminar, rapat-rapat akbar, diskusi terbuka serta dalam berbagai ragam aktivitas lainnya yang serupa termasuk juga pendidikan bagi massa buruh. Tujuan umum dari keseluruhan kegiatan politik ini dimanapun di berbagai belahan dunia adalah sama, yaitu ingin memperjuangkan hak-hak dasar ekonomi, sosial maupun politik yang selama ini dirampas dan dicampakkan oleh kaum borjuasi dan oleh banyak rezim reaksioner diberbagai negeri, terutama di negeri-negeri jajahan, setengah jajahan seperti Indonesia.

Hari buruh sedunia (Mayday) mempunyai arti penting bagi seluruh sektor dan golongan dalam masyarakat. Perjuangan tanpa kenal menyerah yang dilakukan jutaan kaum buruh kala itu telah memberikan inspirasi yang tiada terkira. Keteguhan sikap, pengorbanan serta disiplin dalam perjuangan yang bergelora membuahkan hasil yang hingga saat ini dapat dinikmati oleh klas buruh di seluruh penjuru dunia. Salah satu kemenangan besar yang diraih adalah penetapan jam kerja bagi kaum buruh, 8 jam sehari dan 40 jam seminggu (lima hari kerja). Mengakhiri segala bentuk kerja paksa dan perbudakan yang dalam jangka waktu tersebut terselebung dalam kedok hubungan industrial. Kaum buruh tidak lagi harus bekerja dengan jam kerja yang panjang 12-16 jam bahkan bisa mencapai 18 jam sehari, namun cukup bekerja 8 jam sehari dan mempunyai banyak waktu yang lebih banyak bagi keluarga serta mengembangkan dirinya.

Namun apakah perjuangan tersebut cukup dan berhenti sampai disitu? Tentu saja tidak. Saat ini, ditengah situasi krisis, kaum imperialis terus berusaha menggenjot produksi untuk menghasilkan akumulasi keuntungan yang berlipat-lipat. Kaum buruh dan rakyat pekerja lainnya kemudian menjadi korban dari keserakahan kaum imperialis ini. Kaum buruh dipaksa bekerja lebih keras, ditindas dan dihisap tanpa dipedulikan kesejahteraannya.

Upah kerja yang rendah (termasuk yang dialami buruh tani dipedesaan) dan tidak sanggup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, tidak adanya kepastian kerja karena di terapkannya sistem kerja jangka pendek (kontrak) dan Outsourcing; ancaman PHK massal yang datang sewaktu-waktu, jam kerja yang panjang masih banyak kita temukan dan alami bahkan cenderung mengalami peningkatan dengan berbagai macam bentuknya, larangan untuk berorganisasi atau berserikat (union Busting) kembali mengemuka dan menjadi masalah utama bagi kaum buruh Indonesia hingga saat ini bahkan semakin variatif dan massif. Semua masalah tersebut tidak lepas dari dominasi kepentingan imperialis atas negeri-negeri setengah jajahan seperti Indonesia. Hal ini diperkuat oleh kedudukan pemerintah yang lebih memilih menjadi rejim boneka, kakitangan pelayan kepentingan tuan imperialis daripada melayani kepentingan rakyat Indonesia sendiri.

Sehingga, menjadi sebuah keharusan bagi seluruh rakyat Indonesia, terutama bagi kaum buruh untuk menghimpun kekuatan, dan menggalang persatuan dengan kaum tani, pemuda dan mahasiswa, perempuan dan seluruh sektor yang ada untuk menggelorakan perjuangan merebut hak-hak yang selama ini dirampas oleh penguasa. Mengkampanyekan lebih luas, melakukan pemblejetan pemerintahan (rezim yang berkuasa) yang anti buruh dan anti rakyat serta mengisolasi dan mengucilkan musuh-musuh rakyat. Bahwa mereka yang saat ini berkuasa (kapitalis birokrat) adalah akar persoalan bagi jutaan rakyat di Indonesia. Pengalaman perjuangan kaum buruh yang terjadi ratusan tahun silam, penting untuk menjadi inspirasi, pelecut semangat bagi kita selaku kaum buruh dan seluruh elemen yang ada sekarang untuk melakukan perjuangan yang lebih baik, secara kuantitas maupun kualitasnya.

Peringatan May Day tahun ini masih berada dalam posisi strategis dan istimewa kedudukanya karena berada dalam situasi krisis imperialisme yang semakin kronis di tengah-tengah penghidupan kaum buruh semakin buruk tertindas dan terhisap semakin dalam dan akut. Serta tiadak lama setelah Perayaan May Day tepatnya tanggal 7 – 8 Mei 2011 di Jakarta akan di langsungkan pertemuan ASEAN (ASEAN SUMMIT).

GABUNGAN SERIKAT BURUH INDEPENDEN (GSBI) selaku gerakan massa yang menghimpun kaum buruh dalam momentum May Day ini tentu sangat berkepentingan untuk melancarkan perjuangan guna pemenuhan serta perlindungan hak-hak dasar buruh yang selama ini dilanggar serta diabaikan oleh Pengusaha dan juga pemerintah (rezim berkuasa) sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas terwujudnya pemenuhan hak-hak dasar buruh Indonesia.

Maka dalam momentum MAY DAY tahun ini ( 1 mei 2001) GSBI telah menyusun serangkaian kegiatan dan puncak dari serangkian kegiatan tersebut adalah akan melancarkan AKSI MASSA secaar serentak diseluruh wilayah/basis pengorganisasiaannya dimana anggota organisasi GSBI tersebar.

Dan dalam peringatan May Day tahun ini GSBI menetapkan tema : Peringati Mayday dengan Memperkuat Persatuan Klas Buruh dan Kaum Tani: “GERAKAN BURUH INDONESIA MELAWAN REZIM ANTI RAKYAT SBY-BUDIONO; HENTIKAN PERAMPASAN UPAH TANAH KERJA DAN PEMBERANGUSAN SERIKAT BURUH (UNION BUSTING)” tema ini adalah perasan yang diambil dari simpulan keadaan obyektif kaum buruh Indonesia yang dihubungkan dengan perkembangan dari krisis umum imperialisme di dunia dan juga dihubungkan dengan keadaan obyektif Indonesia secara ekonomi politik sosial budaya dan militer dibawah kuasa rezim SBY Budiono sebagi rezim kakitangan imperialisme pimpinan AS; tak lupa tema ini juga dihubungkan dengan keadaan dan kedudukan gerakan rakyat di Indonesia seelama ini terutama gerakan buruh di Indonesia pada saat ini; maka setelah mendapat ulasan mendalam di tentukanlah tema diatas.

Dan adapun tuntutan utama dalam Kampanye Massa MAY DAY tahun ini GSBI menuntut :

1. Menuntut di hentikannya berbagai bentuk perampasan upah dan dinaikkan nya Upah Buruh;
2. Menuntut Adanya Kepastian Kerja dalam kedudukannya GSBI menuntut untuk diHentikannya PHK dalam bentuk apapun; di hapus nya sistem kerja kontrak jangka pendek (PKWT) dan outsourcing;
3. Molak Privatisasi asset-aset Negara terutama BUMN;
4. Menuntut adanya Jaminan Sosial bagi kaum buruh dan seluruh rakyat yang di tanggung sepuhnya oleh Negara; --- bukan asuransi sosial sepertiyang selam ini terus di angkat dan dikampanyekan oleh pemerintah dan juga banyak kalangan;
5. Menuntut di Berikan jaminan atas Hak kebebasan berserikat dan perlindungan hak untuk berorganisasi; disini GSBI melawan segala bentuk praktek Union Busting dan menuntut pemerintah untuk menghentikan segala praktek union busting.
6. Menuntut dibuatnya UU Pro buruh; Maka dalam kedudukan ini GSBI menuntut untuk di cabutnya tiga paket UU perburuhan dan menolak segala revisinya yang pro pengusaha dan pasar; dan disini GSBI akan berjuang untuk terwujudnya UU yang pro buruh;
7. Menuntut Perlindungan Sejati Bagi Buruh Migran INdonesia dan Keluarganya;disini GSBI menunutut segera di cabutnya UU PPTKILN dna di ganti dengan UU yang pro terhadap BMI dan keluarganya serta segera di rativikasinya konvensi PBB 1990 tentang perlindungan bagi Buruh Migran dan Keluarganya serta GSBI juga mendukung dan mendesak untuk segera di buat dan disyahkannya UU tentang PRT di Indonesia.
8. Menuntut di Jadikan 1 Mei sebagai hari buruh dan libur nasional.

Itu adalah tuntutan-tuntutan pokok GSBI dalam MAYDAY tahun ini; tuntutan ini adalah hasil dari simpulan pengalaman praktek GSBI dan tuntutan ini juga sudah GSBI digelorakan dan perjuangkan jauh dari tahun-tahun lalu hingga hari ini dan senantiasa akan terus digelorankan hingga kemenangannya dicapai.

Dengan demikian untuk suksesnya kampanye massa SATU MEI 2011 ini GSBI membuka secara luas keterlibatan kaum buruh dan semua pihak masyarakat luas terutama adalah kawan-kawan pimpinan GSBI ataupun anggota biasa dalam semu aspek kegiatan. Karena GSBI menyadari perjuangan kaum buruh jg membutuhkan dukungan konkrit dari semua kalangan rakyat.

Tempalah besi selagi panas;

Satu hal yang harus kita yakini bahwa buruh tidak pernah rela dibayar dengan upah rendah, di PHK seenaknya sendiri atau bekerja dibawah penghisapan sistem kontrak dan outsourching; berorganisasi/berserikat di bawah ancaman. Kaum tani tidak pernah mau dan rela tanahnya dirampas begitu saja, tidak ada rakyat di Indonesia yang mau hidupnya dalam ancaman penggusuran dan ancaman kekerasan; penangkapan dan penembakan tidak ada satupun orang tidak mau sekolah dan hidup dalam alam keterbelakangan. Semua ini adalah potensi bagi kita gerakan demokratis nasional untuk mengabarkan kenyataan rakyat dan apa yang harus dilakukan, bukan untuk menjadi messiah karena rakyat sendirilah yang akan berkehendak membebaskan dirinya, tugas kita adalah membangkitkan; mengorganisasikan dan menggerakan.



salam juang

GABUNGAN SERIKAT BURUH INDEPENDEN (GSBI)
Federation of Independen Trade Union/

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar dan jangan meninggalkan komentar spam.

emo-but-icon

Terbaru

Populer

item