Serikat Buruh dan Kemerdekaan Indonesia

Pengantar Redaksi Artikel ini merupakan wawancara antara Radio Nederland dengan Jafar Suryomenggolo, tentang kontribusi serikat buruh dala...

Pengantar Redaksi

Artikel ini merupakan wawancara antara Radio Nederland dengan Jafar Suryomenggolo, tentang kontribusi serikat buruh dalam kemerdekaan Indonesia. Terdapat banyak hal menarik dan penting untuk disuguhkan kepada pembaca Info GSBI. Artikel ini tidak mendapat penyuntingan sedikitpun dari redaksi, agar pembaca bisa menikmatinya secara utuh.

Persaingan antara Indonesia dan Belanda semasa perang kemerdekaan ternyata juga merasuk dalam dunia serikat buruh. Baik pemerintah Republik maupun penguasa kolonial berusaha merayu serikat buruh supaya memihak mereka.

Lima tahun setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945, Belanda mati-matian berupaya menguasai kembali Indonesia, yang dikira masih merupakan "miliknya". Sempat terjadi dua kali clash militer antara Indonesia dan Belanda. Indonesia waktu itu terbagi antara wilayah republik dan wilayah Belanda.

Di wilayah Belanda, penguasa kolonial yang ingin merebut hati rakyat, melancarkan kebijakan yang murah hati, antara lain mengizinkan berdirinya pelbagai serikat buruh. Padahal di zaman kolonial serikat buruh terbagi dalam ras, dan orang Indonesia tidak boleh masuk serikat buruh yang beranggotakan orang Belanda.

Tentang persaingan serikat buruh Indonesia Belanda ini, berikut penjelasan Jafar Suryomenggolo peneliti sejarah buruh pada Kajian Asia Tenggara di Universitas Kyoto, Jepang. Jafar memulai penjelasannya dengan peran Belanda dalam serikat buruh di Indonesia.

Jafar Suryomenggolo [JS]: Ya, kalau untuk mengenal bagaimana bentuk serikat buruh, organisasi serikat buruh, itu memang pertama kali dibawa oleh orang Belanda. Serikat buruh yang terbentuk pertama kali itu serikat buruh di kalangan guru dan serikat buruh perawat, semuanya oleh orang Belanda. Bukan berarti pribumi tidak ada yang menjadi guru atau pribumi tidak ada yang menjadi perawat. Ada, tapi mereka tidak bisa masuk menjadi anggota serikat buruh guru dan serikat buruh perawat yang memang khusus untuk orang-orang Belanda itu.

Sisa-sisa Belanda

Pribumi baru bisa menjadi anggota serikat buruh, khusus di kereta api, karena oleh VSTP (Vereeniging van Spoor- en Tramwegpersoneel atau Serikat Buruh Kereta Api dan Trem). VSTP sendiri dipengaruhi oleh gerakan komunis dari Sneevliet yang dibawa dari Belanda. Anggota pertama itu Semaoen dan dia juga yang dikemudian hari menjadi ketua VSTP, yang pribumi pertama kali, Pak Semaoen itu.

Radio Nederland [RNW]: Jadi pertama untuk orang Belanda baru kemudian VSTP yang untuk orang pribumi. Kemudian yang Anda teliti adalah serikat buruh pada zaman kemerdekaan, dari tahun 1945 sampai tahun 1949. Di situ masih ada peran Belandanya?

JS: Kalau ditanya bagaimana peran Belanda secara langsung, untuk serikat buruh pribumi mungkin tidak ada. Tapi sisa-sisa itu masih ada. Kita bisa tahu dari tahun 1945 sampai 1947, ada serikat buruh di kalangan orang Indo. Itu terutama di daerah yang dikuasai oleh Belanda. Khusus untuk pulau Jawa misalnya, kita tahu ada daerah republik yaitu daerah-daerah yang dikuasai oleh Indonesia yang merdeka tahun 1945, tapi juga ada daerah-daerah yang dikuasai oleh Belanda akibat agresi militer, seperti misalnya Jawa, Bandung. Itu daerah-daerah yang dikuasai oleh Belanda setelah agresi.

Di situ muncul juga beberapa serikat buruh di kalangan orang Indo. Berarti tidak murni Belanda, ya. Tetapi memang mereka bekerja di perusahaan-perusahaan Belanda, seperti misalnya kereta api, pabrik gula juga ada, sebagai teknisi dan mereka membentuk serikat buruh. Bagaimana mereka membentuk serikat buruh, apa yang mereka kerjakan saat itu mungkin masih kabur. Sampai saat ini belum ada penelitian yang mendalam tentang itu. Dan bagaimana mereka memberikan kontribusi bagi perkembangan serikat buruh selanjutnya, itu yang juga minim kita ketahui.

RNW: Anda tadi mengatakan bahwa di daerah-daerah yang dikuasai Belanda ada serikat buruh orang Indo ya. Bagaimana dengan orang pribuminya, apakah mereka tidak boleh bikin serikat buruh atau menjadi anggota serikat buruh?

JS: Oh, boleh sekali dan justru dianjurkan. Mungkin karena satu hal, kolonial Belanda saat itu melihat bahwa di daerah republik justru serikat buruh berkembang. Jadi mereka juga takut kalau dilarang, orang-orang pribumi ini akan lari ke daerah republik. Sementara mereka butuh tenaga-tenaga pribumi. Jadi diperbolehkan tapi juga dikukung, tidak bisa bergerak banyak, tapi diperbolehkan ada.

Masih bayi
Misalnya, contoh yang saya teliti lebih mendalam tentang serikat buruh kereta api, di daerah republik memang serikat buruh kereta api SBKA itu yang paling aktif. Itu memang oleh pribumi, semua pengurus pribumi dan anggotanya benar-benar buruh kereta api. Sementara di daerah pendudukan Belanda juga ada serikat buruh kereta api namanya serikat sekerja kereta api, SSKA. Itu juga melakukan organisasi di antara penduduk pribumi. Tetapi ketuanya dan sekretarisnya orang elit ya, walaupun pribumi tapi elit. Punya pendidikan tinggi. Jadi bukan buruh kereta api secara langsung.

RNW: Apakah waktu itu mereka juga berpengaruh, misalnya bisa meningkatkan gaji?

JS: Kalau untuk SBKA di daerah republik jelas, walaupun mereka mendukung kemerdekaan Indonesia 100%, mendukung negara Indonesia yang waktu itu bisa dikatakan masih bayi ya, baru kurang dari satu tahun sudah bisa terbentuk negara, punya institusi, punya kementerian, punya yang namanya tentara dan serikat buruh membantu itu. Tetapi serikat buruh juga tidak hanya sekedar membebek pemerintah Indonesia, tetapi juga melakukan kritik terhadap pemerintah Indonesia. Itu jelas.

Untuk di daerah kolonial bagaimana? Apakah serikat buruh melakukan gerakan-gerakan yang cukup revolusioner, misalnya menuntut kemerdekaan dari pemerintah kolonial? Itu yang tidak ada di data selama ini.

RNW: Kalau begitu apa yang mereka kerjakan? Menuntut kenaikan gaji?

JS : Menuntut kenaikan gaji juga kurang jelas, karena gaji sudah diatur. Oleh pemerintah Belanda mereka dianggap sebagai pegawai negeri dalam arti tertentu. Jadi standar gaji sudah ada, dan standar gaji di daerah pendudukan Belanda jelas lebih tinggi daripada di daerah republik. Dan itu juga menjadi alasan banyak terjadi perpindahan buruh dari daerah republik ke daerah jajahan Belanda.

Pengkhianat limpung
Sampai tahun 1949 ini mengakibatkan banyak perselisihan di kalangan buruh sendiri, karena ada yang dianggap, istilah mereka saat itu, pro dan kontra. Siapa yang pro republik dan kontra republik. Dan buruh-buruh yang cuma mau isi perut, praktis ya mereka akan cari kerja di daerah pendudukan Belanda. Karena dapat gaji lebih tinggi, dapat kesejahteraan lebih tinggi. Dan kepastian kerja juga lebih tinggi daripada di daerah republik, mereka pindah ke daerah pendudukan Belanda. Di akhir tahun 1949, setelah pengakuan kemerdekaan mereka limpung, karena dianggap pengkhianat, kontra, akhirnya gajinja diturunin segala macam. Padahal hanya sekedar untuk mengisi perut, saat itu, untuk keperluan mereka.

Tapi bukan berarti bahwa semuanya sekedar mengisi perut. Ada juga orang-orang yang memang melakukan gerakan-gerakan dari dalam. Itu ada. Buruh-buruh yang sengaja turun ke daerah pendudukan Belanda, untuk melakukan kampanye, untuk melakukan propaganda. Itu jelas ada dan itu di kalangan buruh kereta api jelas banyak. Tidak hanya satu atau dua, tapi cukup terorganisir untuk melakukan gerakan-gerakan yang mendukung kemerdekaan di daerah pendudukan Belanda.

RNW: Jelas sejak awal, peran serikat buruh ini bukan hanya untuk kesejahteraan buruh, tapi juga untuk hal-hal yang bersifat politis ya, seperti kemerdekaan Indonesia.

JS: Ya, itu jelas sekali. Karena suasana pada saat itu semua bergairah, semua mau merdeka. Justru yang tidak mau merdeka kita curiga. Ada satu hal menarik sebenarnya. Catatan Adam Malik, kita tahu siapa Adam Malik. Mungkin untuk generasi saya Adam Malik kita tahu pernah sebagai wakil presiden pada masa Orde Baru. Tapi pada saat tahun 1945 sampai tahun 1950, Adam Malik adalah anggota pemuda, dan itu jarang yang kita tahu dari sejarah.

Semuanya pribumi
Dari kesaksian dia yang ada dalam satu buku yang dia tulis tahun 1978, kalau tidak salah. Di situ dia tulis sebagai seorang pemuda ia melihat ternyata buruh-buruh kereta api melakukan pengorganisasian lebih dulu daripada para pemuda. Terutama di kereta api, mereka melakukan mobilisasi merebut stasiun-stasiun. Dimulai pertama kali dari stasiun Jakarta Kota dan Manggarai, itu dari pendudukan Jepang mereka rebut dari pendudukan Jepang, mereka kuasai stasiun itu. Kereta api mereka kuasai dan mereka melakukan pengorganisasian.

Kalau dulu bayangan kita pengorganisasian hanya dilakukan oleh orang Belanda dan semua dikuasai oleh orang Belanda, ketuanya orang Belanda, bahasanya juga bahasa Belanda, mungkin, tapi justru tahun 1945 semuanya oleh orang Indonesia, semuanya pribumi. Ketuanya bahkan pribumi. Dan yang menarik dari situ, yang Adam Malik catat, bahwa mereka melakukan pengorganisasian secara otonom, tidak ada bos, tidak ada manajemen, semuanya mereka pilih sendiri secara langsung.

Kalau dalam pengerti politik mungkin, primus interpares. Di antara kita sendiri kita tahu kualitas masing-masing, dan kita memilih dia sebagai ketua, karena kita tahu kualitas dia. Kita menaruh kepercayaan pada dia, dan itu yang menarik. Karena ada semacam, kalau bahasa politik mungkin, komunisme bayi. Dan itu terjadi dalam serikat buruh kereta api, dan Adam Malik menulis itu. Mungkin itu yang menjadi inspirasi juga di kalangan pemuda, bahwa serikat buruh sudah terbentuk di antara buruh kereta api lebih dulu daripada para pemuda.

RNW: Ya kemudian Belanda akhirnya mengakui kemerdekaan Indonesia, yaitu pada bulan Desember 1949, dalam Konperensi Meja Bundar. Bisa dikatakan bahwa orang Belanda pergi dari Indonesia secara formil. Pemerintahan Belanda tidak lagi berada di Indonesia. Apakah menurut Anda sesudah itu masih ada, masih bisa dilihat pengaruh Belanda pada serikat buruh di Indonesia?

JS: Saat SOBSI terbentuk tahun 1947, memang ada wakil organisasi buruh Belanda yang hadir dalam pembentukan itu. Dan itu ditulis dalam berita-berita, tidak hanya oleh publikasi SOBSI sendiri, tapi juga masuk dalam koran umum ya, seperti Kedaulatan Rakyat juga ditulis di situ, tentang hadirnya wakil serikat buruh Belanda dalam pembentukan SOBSI. Kenapa itu ditulis, itu juga menjadi tanda tanya buat saya. Karena kita tidak tahu apa yang orang ini kerjakan. Mengapa dia datang, kita tidak tahu. Tapi dugaan saya kenapa itu ditulis dan apa arti pentingnya buat SOBSI, karena untuk menunjukkan relasi internasional.

Tidak setuju
Dan relasi internasional cukup penting pada saat itu, tahun 1945-1950, bahwa kemerdekaan Indonesia diakui juga oleh negara-negara Eropa. Walaupun Belanda saat itu tidak, kita tahu. Tetapi itu ditulis dalam berita umum untuk menandakan bahwa di Belanda sendiri tidak semua orang setuju lho dengan apa yang dilakukan oleh pemerimtah Belanda. Bahwa ada juga orang-orang yang tidak setuju, dan ini terutama di gerakan buruh yang tergolong kiri. Dan kata kiri sendiri pada saat itu mungkin berbeda dengan komunisme, apa yang kita ngerti pada zaman sekarang. Tapi kiri mungkin pada saat itu lebih cenderung revolusioner.

Dan itu penting juga untuk SOBSI ditulis, karena untuk bilang bahwa SOBSI punya koneksi internasional yang serikat buruh lain tidak punya. Itu penting untuk SOBSI sebagai pencitraan organisasi yang kuat, yang punya koneksi internasional, stabil, mapan dan untuk merebut kepemimpinan di antara serikat buruh sendiri. Setelah tahun 1949 bagaimana pengaruh serikat buruh Belanda terhadap gerakan buruh Indonesia itu minim sekali. Kita tidak tahu ya apa yang mereka lakukan. Juga bagaimana hubungannya selanjutnya. Tapi justru yang kita tahu pasti, setelah pada masa Orde Baru itu lebih kuat, tetapi pada tahun 1950 sampai tahun 1964 itu minim sekali, kita tidak tahu. Dan gerakan buruh lebih berada di bawah kendali PKI dan PKI sendiri orientasi pada Tiongkok, kita tidak tahu.

Joss Wibisono (Sumber: http://www.rnw.nl/)

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar dan jangan meninggalkan komentar spam.

emo-but-icon

Terbaru

Populer

item