Jamsostek Incar 51% Saham Bukopin Syariah, Jamsostek Siapkan Rp 1 Triliun

Jakarta - PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) berencana mengambil alih kepemilikan saham mayoritas PT Bank Syariah Bukopin pada akhir...

Jakarta - PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) berencana mengambil alih kepemilikan saham mayoritas PT Bank Syariah Bukopin pada akhir semester I-2010. Jamsostek juga mengincar 30% saham PT BNI Syariah.

"Yang paling mungkin, BNI Syariah dan Bank Syariah Bukopin. Namun, BSB yang paling besar. Kita akan jadi mayoritas, diatas 50%," kata Direktur Utama Jamsostek Hotbonar Sinaga yang ditemui di kantor Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Komplek Departemen Keuangan, Lapangan Banteng, Jakarta Jumat (15/1/2010).

Sebelumnya Jamsostek tengah menyeleksi 6 bank. Selain BNI Syariah dan BSB, ada PT Bank Bukopin, Unit Usaha Syariah PT Bank Tabungan Negara, Bank Muamalat, dan Bank Agroniaga.

Targetnya akuisisi BSB rampung pada akhir semester I atau awal semester II. Saat ini, Jamsostek telah menguasai 9% saham di BSB. Oleh sebab itu, perseroan membutuhkan setidaknya 42% saham agar bisa menjadi pengendali BSB. Namun jumlah pastinya masih menunggu kepastian dari BSB.

"Kita masuk ya lewat right issue. Kita lihat, mereka akan mengeluarkan berapa," jelasnya.

Nantinya, lanjut Hotbonar, penguasaan kepemilikan di BSB akan dijalankan Jamsostek melalui anak usaha mereka, yaitu Jamsostek Investment Company (JIC). JIC merupakan anak usaha baru hasil join venture dengan Asian Development Bank (ADB).

JIC telah menyiapkan dana Rp 1 triliun atas rencana akuisisi tersebut. Tidak hanya BSB, perseroan juga akan masuk ke BNI Syariah, namun tidak sebagai pemilik mayoritas.

"BNI kami inginkan 20-30%. Tidak sebagai mayoritas. Dana yang disiapkan, semuanya Rp 1 triliun," paparnya.

Ada dua opsi dalam pembelian saham 30% saham BNI Syariah. Bisa melalui anak usaha JIC, atau ADB dan Jamsostek masuk masing-masing.

"Ya tergantung. Bisa ADB akan masuk ke BNI (Syariah), plus Jamsostek. Atau lewat JIC, kita join dulu. Memang, yang paling menguntungkan yang kedua (melalui anak usaha)," imbuhnya.

(dro/dro) Jumat, 15/01/2010 16:32 WIB
Whery Enggo Prayogi - detikFinance

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar dan jangan meninggalkan komentar spam.

emo-but-icon

Terbaru

Populer

item