Mata Hati, Kata Hati Sudah Mati

Mata Hati, Kata Hati Sudah Mati 26 Oktober 2009 jam 22:10 Pada 24 Oktober 2009 lalu gue ke Penjaringan, Jakarta Utara. kalo ada yang tau s...


Mata Hati, Kata Hati Sudah Mati
26 Oktober 2009 jam 22:10

Pada 24 Oktober 2009 lalu gue ke Penjaringan, Jakarta Utara. kalo ada yang tau sekitar daerah rumah susun tanah merah. Daerah yang paling hobby kebakaran, rumah dempet-dempetan banget, banyak gang beranak gang terus beranak lagi.. wuihh padat deh.

Air bersih-pun masih harus beli, makanya banyak yang punya usaha WC umum. Pipis Rp. 500, BAB atau mandi masing-masing Rp.1.000, Wudhu gratis. kalau untuk urusan ini mana ada yang berani pasang tariff.. =)

Hari itu gue datang untuk jelasin nasib 355 buruh korban PHK di pabrik pakaian dalam perempuan. Awalnya mereka semua 477 buruh. Agustus 2008 yang lalu, mereka mogok nuntut hak-hak normative (= hak dasar yang dijamin UU) seperti air bersih, masker untuk hindari debu dari kain yang bahaya untuk paru-paru, jaminan pemeliharaan kesehatan, jaminan kebebasan berserikat khususnya untuk ketua serikat buruhnya yang di PHK, dll.

Soal pelanggaran hak normative buruh di tempat kerja memang sempat diinvestigasi, tapi sayangnya ini terjadi di banyak tempat, proses penyelesaian perselisihan jalan duluan. Yang diperiksa mogok sah/tidak. PHK pantas/gak, kalau pantas berapa kompensasinya, cuma itu. Hasilnya bisa ditebak, 477 buruh di PHK dengan kompensasi 1 kali aturan UU.

Lewat seleksi alam, akhirnya tinggal 411 yang bertahan ajukan gugatan bersama pimpinan serikat buruhnya + lembaga gue. ---Menghibur memang--, Agustus 2009 yang lalu putusannya kerja kembali. Tapi berengseknya sampai hari ini pun mereka tetap jadi pengangguran. Hebat emang modal didukung sama sistem hukum dari pemerintah neolib (halah mulai coba-coba militan bahasanya..). Ngulur waktu dan yang disasar perut manusia. Apalagi kemarin sempet moment lebaran, banyak yang akhirnya nyerah & terima kompensasi ala kadarnya.

Tinggal 355 buruh. Yang kumpul waktu itu sekitar lebih dari 80 orang, banyak yang gak datang karena rumahnya jauh & gak punya ongkos & banyak juga yang udah pulang kampung gak kuat biaya hidup di Jakarta. Jelasin panjang lebar pertanyaannya selalu balik lagi ke kapan ini selesai? Sampai akhirnya berhenti karena 1 orang bilang ”Ingat perjuangan ini sudah 1 tahun lebih, kalau mau nyerah kenapa tidak dari kemarin saja?” Semua langsung ngelihat ke si-mbak yang ngomong. Hampir semuanya langsung berkaca-kaca, termasuk gue (lebih lebay karena ditambah gemetar). Hebat emang orang-orang ini... gue belum tentu sanggup punya pilihan se-tegar ini..

Diakhir pertemuan, ada pimpinan serikat buruh pegang toples plastik terus jelasin ”ada kawan kita mbak Lina Sriwinarsih meninggal dunia, kemudian mbak anu anaknya masuk rumah sakit demam berdarah, terus mbak anu suaminya kena penyumbatan jantung. sebenernya malu mau minta sumbangan tapi gimana lagi?” omongannya diakhiri sambil edarin toples itu. Serentak pada keluarin uang, meskipun kebanyakan seribuan..

Makin sadar & bangga, gue lagi hadapi manusia-manusia super hebat, ada yang meninggal saat masih berjuang, ada yang masih semangat walau terpaksa harus jadi tumpuan & kepala keluarga, dan ada banyak yang memberi dari kekurangannya.. mereka pun bingung besok mau makan apa, kenapa masih harus nyumbang juga?

Pada saat yang sama rasanya benar-benar marah.. ada manusia yang sanggup ciptakan situasi seperti ini. Andai mata fisiknya punya kesempatan lihat derita buruhnya yang puluhan tahun berproduksi buat dia. Mungkin bisa luluh, mungkin juga gak, malah tambah keras membatu. Apalagi kalau mata hati, kata hati sudah mati...()


Esei ini di tulis oleh : Della Febby Situmorang, yaitu Aktivis dan Pengacara pada Kantor TURC (Trade Union Right Center) salah satu kuasa hukum dari ke 447 orang buruh PT.MMS korban PHK yang tergabung dalam SBGTS-GSBI.

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar dan jangan meninggalkan komentar spam.

emo-but-icon

Terbaru

Populer

item