AFW Launching Serentak 7 Oktober 2009 di Seluruh Negara di Asia, Eropa dan Amerika

Pada tahun 2009, Aliansi ini telah menghitung sebuah AFW berjumlah 475$PPP, yang jika diterjemahkan ke dalam sebuah upah bulanan adalah 696...


Pada tahun 2009, Aliansi ini telah menghitung sebuah AFW berjumlah 475$PPP, yang jika diterjemahkan ke dalam sebuah upah bulanan adalah 6968.25 Rupee di India; 1638.75 Yuan di Cina; Rp. 1.868.773,50 di Indonesia, dan 10754 Taka di Banglades, dll.

Berbarengan dengan peringatan hari Decent Work for All (Kerja Layak untuk Semua) pada tanggal 7 Oktober, Secara serentak di seluruh negara Asia, Eropa dan Amerika yang tergabung AFW ( Asia Floor Wage) atau Kampanye Upah Dasar Asia, mengadakan peluncuran gagasan ini kepada publik agar gerakan solidaritas internasional ini dapat menjadi gerakan yang lebih besar.

Di Indonesia, Peluncuran gagasan AFW yang di prakarsai oleh TURC, GSBI dan SPN dilakukan di gedung JMC (Jakarta Media Centre/Gedung Dewan Pers) Jl. Kebon Sirih Jakarta Pusat (Rabu, 7/10/2009)peluncuran gagasan AFW ini dilakukan dalam seminar dan peluncuran gagasan Asia Floor Wage dengan mengangkat tajuk “Menisik Upah Layak Lintas Batas” (Stiching Decent Wage Across Borders) dengan menghadirkan para pembicara sebagai pembedah adalah : Alan Boulton (ILO Jakarta)sebagai Keynote Speaker, Indra Munaswar (SP TSK SPSI Reformasi), Dela Feby Situmorang (TURC), Endang (SPN) dan Rudy HB Daman (GSBI), selain juga ada testimoni bu. Elyawati (Buruh PT Saraswati Garmindo, dari Kabupaten Sukabumi Jawa Barat).

Berikut ini adalah Press Release AFW yang di keluaran dalam peluncuran gagasan AFW di Jakarta pada Rabu, 7 Oktober 2009.
>>>>>>>>>>>>>>>

Press Release:
Asia Floor Wage

Launching & Diskusi Asia Floor Wage
“Stiching Decent Wage Across Borders”
Menisik Upah Layak Lintas Batas

Jakarta Media Centre, Jakarta
7 Oktober 2009


Asia Floor Wage (AFW) adalah sebuah inisiatif upah layak bagi buruh Asia yang bekerja di industri garment. AFW digagas oleh aliansi yang diawali oleh para aktivis dan pemerhati hak-hak buruh di India. Kemudian, apa yang dimulai sebagai inisiatif Asia saat ini telah berkembang ke Eropa dan Amerika Utara. Sampai sekarang, aliansi AFW telah menggabungkan lebih dari 70 serikat buruh, organisasi hak asasi manusia dan buruh, LSM pemberdayaan masyarakat, kelompok hak-hak perempuan, dan akademisi di 17 Negara melintasi Asia, Eropa dan Amerika Utara, termasuk di dalamnya Indonesia. Serikat Pekerja Nasional (SPN), Gabungan Serikat Buruh Independen (GSBI) dan Trade Union Rights Centre (TURC) telah bergabung dalam solidaritas global ini.

Inisiatif AFW berfokus pada industri garmen dan tekstil karena sektor ini merupakan salah satu sumber pendapatan yang penting di dunia dan Asia adalah pengekspor garmen nomor satu di dunia, produksi garmen di Asia menguasai lebih dari 60% total perdagangan garmen siap pakai. Negara-negara produsen kunci adalah Cina, India, Banglades, Indonesia, Sri Lanka, dan Thailand. Meskipun industri garmen telah sangat menguntungkan, upah yang diterima oleh para buruh garmen tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang layak dan bermartabat bagi buruh dan keluarganya.


Perkenalkanlah Siti Turasmi

Siti Turasmi, buruh perempuan berumur 28 tahun dan memiliki 1 orang anak. Ia bekerja selama 9 tahun di PT Megariamas Sentosa (MS), produsen pakaian dalam wanita, yang menjual produknya ke Pierre Cardin, Sorella, Felancy, dan Young Hearts untuk pasaran ekspor ke Taiwan, Singapura, Malaysia, dan Hongkong, juga pasar lokal (40% pasar lokal dan 60% pasar ekspor). Sorella dan Pierre Cardin merupakan merk papan atas dalam industri pakaian dalam dan telah diproduksi oleh PT MS selama lebih dari 10 tahun. Sepasang pakaian dalam dengan merk ini bisa dihargai sampai Rp.200.000.

Untuk menjalankan usahanya ini PT MS yang berlokasi di Penjaringan, Jakarta Utara mempekerjakan sekitar 750 orang buruh tetap dan 250 buruh kontrak. Setiap harinya masing-masing buruh diberikan target untuk menyelesaikan BH sebanyak 600-800 sedangkan untuk celana dalam, tergantung bekerja di bagian apa. Seorang buruh yang memegang obras samping maka targetnya mencapai 2000/hari, sedangkan jika di bagian pengerjaan karet pinggang adalah sebanyak 800-1000/hari.

Kompensasi dari pekerjaan ini, Siti mendapat upah Rp. 40.620/hari atau Rp. 1.429.840/bulan (termasuk upah lembur dan tunjangan lainnya). Jika dijumlahkan dengan upah suaminya seluruhnya Rp.2.329.840/bulan. Dengan uang sejumlah inilah keluarga Siti harus memutar otak untuk dapat bertahan hidup. Alhasil rata-rata setiap bulannya keluarga ini harus mengalami defisit sekitar Rp. 270.000. Biaya hidup yang demikian tinggi khususnya pengeluaran berupa air bersih untuk masak, mandi & sholat yang harus dibeli di daerah Penjaringan, membuat mau-tak-mau anak mereka yang berusia 7 tahun dititipkan kepada ibu Siti di Kebumen.


Aliansi AFW telah membangun sebuah proposal “Kampanye Upah Dasar Asia” untuk meletakkan dasar dari “perlombaan menuju dasar” (race to the bottom) dan demi mencegah kompetisi upah di antara negara-negara pengekspor garmen di Asia. Yang dilakukan Aliansi AFW adalah menawarkan dasar konkrit bagi upah layak Asia.

Aliansi AFW telah mengembangkan sebuah metode penghitungan sebuah upah layak minimum di tataran nasional dengan menggunakan rumus purchasing power parity (PPP) dalam dolar Amerika ($). PPP didefinisikan sebagai ”jumlah unit mata uang yang dibutuhkan untuk membeli sejumlah barang dan jasa setara dengan yang bisa dibeli oleh satu unit mata uang negara yang jadi patokan, misalnya dolar Amerika.”

Jumlah AFW berbeda-beda di tiap negara, tetapi memiliki kesamaan daya beli untuk satu set makanan dan pelayanan yang sama di seluruh negara. Pada tahun 2009, Aliansi ini telah menghitung sebuah AFW berjumlah 475$PPP, yang jika diterjemahkan ke dalam sebuah upah bulanan adalah 6968.25 Rupee di India; 1638.75 Yuan di Cina; Rp. 1.868.773,50 di Indonesia, dan 10754 Taka di Banglades, dll.

Berbarengan dengan peringatan hari Decent Work for All (Kerja Layak untuk Semua) yang jatuh pada 7 Oktober 2009, diadakan peluncuran gagasan ini kepada publik. Peluncuran serupa turut dilakukan oleh aliansi AFW di berbagai negara seperti India, Banglades, Sri Lanka, Hong Kong, Inggris, Belanda, Swedia, Norwegia, Amerika Serikat dan Kanada dengan masing-masing cara seperti diskusi, penulisan surat kepada pemegang merk, kampanye upah layak, konferensi pers, penerbitan laporan, dsb.

Peluncuran AFW di Jakarta ini akan melibatkan Peter van Rooj dari Kantor ILO Jakarta sebagai keynotes speaker dan kesaksian Elyawati, buruh PT Saraswati Garmindo, perusahaan yang terkena dampak relokasi dari KBN Cakung, Jakarta Timur ke Kabupaten Sukabumi. Elyawati bersama dengan buruh lainnya pun terpaksa turut direlokasi. Dan akan dilanjutkan dengan diskusi panel bersama Indra Munaswar (SP TSK SPSI Reformasi), Endang Sunarto (Serikat Pekerja Nasional), Rudy HB Daman (Gabungan Serikat Buruh Independen) dan Dela Feby Dela Feby Situmorang (TURC).

Dan diharapkan kegiatan ini dapat menggalang solidaritas internasional yang lebih besar, dan mendapatkan dukungan dari kalangan buruh, pemerhati buruh, pemegang merk dan retail, pemerintah dan masyarakat Indonesia secara umum. Peluncuran ini diharapkan dapat menawarkan sebuah proses negosiasi regional untuk melengkapi strategi lokal. Karena permasalahan yang muncul ialah usaha-usaha buruh untuk meningkatkan upah minimum di tingkat nasional seringkali mengakibatkan para pemilik merk garmen dan retailer merelokasi produksi mereka di tempat lain yang murah hingga buruh memiliki posisi tawar yang lemah. Oleh sebab itu, diperlukan sebuah tuntutan yang menyatu atas sejumlah upah yang layak dan adil, dengan dukungan solidaritas dan komitmen di seluruh lintas batas regional Asia.



Asia Floor Wage Alliance (www.asiafloorwage.org) dan Trade Union Rights Centre
Jalan Mesjid III No.1, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Indonesia
Telp. 62 21 5703929. Email: info@turc.or.id

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar dan jangan meninggalkan komentar spam.

emo-but-icon

Terbaru

Populer

item