Pesan Solidaritas Pada Pelaksanaan Kongres ke 5 ATKI di Hongkong

GABUNGAN SERIKAT BURUH INDEPENDEN (GSBI) FEDERATION OF INDEPENDEN TRADE UNION< JL. Raya Lenteng Agung No. 02 Rt.004/03 Srengseng Sawa...




GABUNGAN SERIKAT BURUH INDEPENDEN (GSBI)
FEDERATION OF INDEPENDEN TRADE UNION<

JL. Raya Lenteng Agung No. 02 Rt.004/03 Srengseng Sawah Jakarta Selatan 12640 Indonesia. Telp/Fax : +6221.7864203 Email : gsbi_pusat@yahoo.com / infogsbi@gmail.com/. Blog : http://infogsbi.blogspot.com/



Hal : Pesan Solidaritas Pada Pelaksanaan Kongres ke 5 ATKI di Hongkong.




Assalamualaikum wr.wb
Salam Demokrasi dan Salam Sejahtera buat semua saudara-saudari yang hadir dalam acara Kongres 5 ATKI.


Kawan-kawan seperjuangan segenap pimpinan dan anggota ATKI serta seluruh peserta Kongres yang mulia, Terimakasih telah memberikan kesempatan pada GSBI untuk menyampaikan pesan solidaritas dalam kongres kawan-kawan.

Sungguh ini merupakan satu kehormatan bagi GSBI bisa menjadi bagian dari kegiatan kawan-kawan. Untuk itu kami seluruh pimpinan dan segenap Anggota GSBI di tanah air menyampaikan selamat dan sukses atas pelaksanaan Kongres ke 5 ATKI semoga Kongres ini bisa berjalan dengan lancar dan menghasilkan dokumen/keputusan-keputusan organisasi yang sangat berguna bagi kemajuan perjuangan buruh migrant serta bagi kemajuan perjuangan gerakan rakyat di tanah air dalam melipatgandakan kekuatan dan keberanian untuk mewujudkan keadilan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat.

Penyelenggaraan Kongres 5 ATKI ini sungguh berada dalam keadaan yang istimewa, pertama yaitu berada di tengah-tengah keadaan dunia utamanya di negeri-negeri Imperialis baik di Amerika Serikat (AS) sebagai induknya imperialism ataupun di Eropa sedang dilanda krisis/resesi global yang kronis, dimana dampak nya sangat dirasakan oleh seluruh sendi kehidupan rakyat dibelahan negeri. kedua di tanah Air (Indonesia) saat ini sedang memasuki masa kampanye para calon presiden untuk menuju pemilu Presiden pada 8 Juli 2009, menentukan pemimpin dan kebijakan arah bangsa untuk 5 tahun kedepan, dimana para calon presiden sedang sengit bersaing dan mengumbar janji, termasuk untuk memberikan perhatian lebih pada rakyat, dan menyampaikan keprihatinan dan keberpihakannya kepada BMI yang selama ini hanya di jadikan sapi perah—--hanya mau Devisa nya saja---, dimana untuk thn 2008 saja BMI telah menyumbang tidak kurang dari Rp 82 triliun, tapi pemerintah tidak pernah memikirkan perlindungan dan kesejahteraan BMI, meskipun sudah tahu dan banyak fakta BMI kita dianiyaya, di tipu, disekap, di perkosa, bahkan dibunuh, upah/gajinya tidak di bayar dan diperlakukan tidak layak sebagaimana manusia yang bermartabat yaitu di rampas Hak Azasi nya, sebagaimana berita dan kejadian baru-baru ini yang menimpa Nirmala Bonat, Ceriyati, Sumasri, Siti Hajar, Nurul Widayanti, dllnya. Dimana di tahun 2008 saja tidak kurang dari 700 TKI meninggal di Malaysia. Jumlah ini belum termasuk mereka yang meninggal di Timur Tengah dan Asia Pasifik. Sebagaimana menurut catatan Migrant CARE, hingga kini ada 175 TKI terancam hukuman mati. Malah di tahun ini (2009) pemerintah menargetkan devisa dari BMi sebesar 168 Triliun.

Kawan-kawan seperjuangan, Resesi ekonomi global di tubuh imperialisme, secara esensi, adalah akumulasi pelanggaran hak asasi yang diderita rakyat, khususnya kaum pekerja di seluruh dunia dalam beberapa dekade terakhir. Kaum Buruh di Asia didalamnya juga buruh migrant sebagai bagian terbesar kekuatan buruh global, menjadi pihak yang paling menderita akibat resesi global dan kerakusan imperialisme. Opensif kapitalis monopoli telah menyerang buruh dari semua sector industry. Pada saat ini, jutaan buruh dari berbagai sector telah mengalami PHK, ratusan ribu buruh migrant dari seluruh Asia juga telah mengalami deportasi ke Negara asalnya masing-masing, sebagaimana kita saksikan bahwa BMI dari Malaysia sudah ribuan orang di deportasi akibat krisis ini. Akibat krisis Buruh, petani dan rakyat tertindas di seluruh dunia menjadi tumbal utama krisis dan harus berjuang mempertahankan hak-haknya.

Bagi Indonesia, krisis ekonomi di tubuh kapitalisme monopoli telah demikian hebat meghantam sendi-sendi ekonomi dan membuat kehidupan rakyat semakin terpuruk. Berbagai langkah kebijakan yang ditempuh oleh Pemerintahan SBY-JK dalam upaya mengatasi dampak krisis ekonomi dunia, masih tetap meletakkan perspektif penyelamatan dan perlindungan kepada kalangan pengusaha besar komprador, maupun tuan tanah besar, seperti yang tertuang dalam paket 10 kebijakan penyelamatan ekonomi nasional serta finansial. Demikian halnya dengan terbitnya PB 4 Menteri. Sangat terang dan vulgar bahwa kebijakan tersebut mengorbankan hak-hak dasar klas buruh di Indonesia. Krisis yang ada juga telah terbukti melambatkan ekonomi nasional, bahkan mengancam tutupnya sejumlah pabrik elektronik, tekstil maupun garmen yang selama ini sangat bergantung pada pasar di AS maupun Eropa. Dengan demikian, klas buruh di Indonesia pada saat ini akan dihadapkan pada poltik upah murah, PHK, daya beli yang terus melorot serta dalam hal pembatasan hak untuk berpendapat dan berserikat. Sebagaimana yang dialami oleh basis anggota GSBI, saat ini tidak kurang dari sekitar 750-an orang anggota GSBI di PHK hanya karena membentuk organisasi serikat buruh sebagai alat untuk melindungi diri dari serangan jahatnya kapitalsime dan krisis global, yang terbaru tanggal 11 Juni 2009 ini di perusahaan Otomotif 4 buruh di PHK dan 60 orang lainnya di teror dan di intimidasi serta di ancam PHK gara-gara akan membentuk serikat GSBI di Pabrik.

Situasi yang dialami oleh klas buruh Indonesia ini, juga tidak jauh berbeda dengan apa yang dialami oleh buruh migrant, kaum tani, nelayan, kaum miskin kota, serta golongan rakyat tertindas lainnya, baik pemuda-mahasiswa maupun perempuan. Kaum tani dan masyarakat pedesaan pada umumnya akan semakin terancam oleh monopoli sumber-sumber agraria maupun perampasan tanah, sementara buruh migrant sangat rentang dengan tiadanya perlindugan bahkan ancaman kehilangan pekerjaan. Demikian halnya dengan golongan mahasiswa dan pemuda akan selalu terdesak oleh tingginya biaya pendidikan dan sulitnya lapangan pekerjaan. Kaum miskin kota diancam oleh penggusuran-penggusuran. Singkatnya dalam situasi saat ini, seluruh beban krisis ekonomi dunia akan ditimpakan kepada pundak klas, golongan maupun sector masyarakat yang sesungguhnya selama ini telah menderita (seperti kaum buruh dan kaum tani).

Kapitalis-monopoli juga menggunakan krisis saat ini untuk melakukan transfer kekayaan dari kaum miskin ke orang-orang kaya, menindas dan menekan upah dan subsidi social, mem-PHK buruh, mempromosikan system perburuhan yang menindas, menghanguskan hak-hak buruh, menindas aksi-aksi buruh dan meningkatkan eksploitasi terhadap klas pekerja. Parahnya, pemerintah-pemerintah di Asia, termasuk pemerintah kita (Indonesia), tidak memiliki langkah-langkah antisipasi yang pasti kecuali tetap mempromosikan system perburuhan fleksibel daripada memenuhi tuntutan-tuntutan dan hak-hak buruh dan hak-hak rakyat.
Untuk itu, kami sampaikan salut kepada ATKI dimana selama GSBI mengenal dan bersama-sama dalam satu barisan dalam perjuangan bagi perlindungan dan kesejahteraan kaum buruh (BMI) serta golongan rakyat tertindas lainnya, ATKI telah berhasil memperkenalkan perlawanan dan perjuangan melawan Imperialisme, Feodalisme dan Kapitalis Birokrat, kepada buruh Migran dan membuat BMI mau berorganisasi dan bergerak berjuang mempertahankan hak-haknya. ATKI adalah organisasi Buruh Migran Sejati, maka rugi bagi kaum buruh migrant Indonesia jika tidak mendukung dan mau bergabung masuk menjadi anggota ATKI, apalagi bagi yang sudah menjadi anggota malah milih keluar ini adalah kesalahan dan kerugian besar. Upaya ATKI ini tentu sangat memberikan sumbangan penting bagi membebaskan para BMI dari eksploitasi sangat mendesak dan dibutuhkan dalam rentang waktu sejarah ini.

Atas keadaan tersebut, maka tidak ada jalan lain kecuali harus berorganisasi dan memperkuat organisasi dengan memperbesar keanggotaan dan wilayah, bersatu dengan organisasi dan elemen gerakan rakyat lainnya di tanah Air serta terus giat mempertanyakan tanggung jawab Negara untuk melindungi warga negaranya dalam hal ini BMI/TKI. Sebab secara pokok sumber masalah yang menimpa BMI selama ini hampir 80% ada di dalam negeri kita sendiri—yaitu karena pemerintah yang berkuasa tidak mandiri—tetapi menjadi bonekanya Imperialisme—negeri kita di dominasi oleh imperialism dan masih kuatnya sisa-sisa feodalisme. Untuk itu perjuangan buruh migrant selain bertugas untuk meringankan berbagai beban penderitaan dan penindasan yang dirasakan oleh BMI, juga memiliki tugas untuk terlibat dalam mengeyahkan dan menghancurleburkan imperialisme, feodalisme dan kapitalis birokrat selaku 3 musuh utama BMI dan rakyat Indonesia yang menyebabkan BMI dan seluruh rakyat Indonesia saat ini berada dalam keadaan miskin, ditindas dan dihisap. Tanpa itu jangan berharap akan ada perlindungan, kebebasan dan kesejahteraan.

Itu saja yang dapat kami sampakan, sekali lagi Selamat Menyelenggarakan Kongres, dan setelah kongres ATKI jadi tambah maju, besar, militant dan progresif. GSBI juga berharap dimana antara GSBI dan ATKI bisa menjadi satu kesatuan nyata dalam gerak perjuangannya yang saling menyokong dan saling meneguhkan.

Kepada ATKI, GSBI mengharapkan untuk terus tetap bertahan dalam membebaskan ketertindasan seluruh BMI khususnya yang ada di Hongkong. Kita pasti akan banyak kehilangan dan pengorbanan, tapi itulah perjuangan yang sesungguhnya.


Hidup Buruh..!!!

Hidup BMI..!!!

Hidup ATKI…!!!

Klas Buruh Indonesia Pemimpin Pembebasan

Galang Solidaritas Lawan Penindasan



Jakarta, 20 Juni 2009

Salam hormat,
Dewan Pimpinan Pusat
Gabungan Serikat Buruh Independen (GSBI)



Rudy HB Daman
Ketua Umum




Emelia Yanti MD Siahaan

Sekretaris Jenderal

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar dan jangan meninggalkan komentar spam.

emo-but-icon

Terbaru

Populer

Arsip Blog

item