GSBI : KRISIS IMPERIALISME DAN TANTANGAN GERAKAN BURUH KE DEPAN

Di tulis oleh : Bung Adif * Krisis imperialis dan dampaknya di sector industri dan perdagangan serta infrastruktur Krisis yang terjadi di...

Di tulis oleh : Bung Adif *

Krisis imperialis dan dampaknya di sector industri dan perdagangan serta infrastruktur

Krisis yang terjadi di tubuh imperialis selalu berpengaruh di negeri setengah jajahan seperti di Indonesia. Upaya mereka keluar krisis tidak akan menyelamatkan imperialis dari jurang kehancurannya. Seperti yang hari ini tengah terjadi, krisis financial yang dipicu kredit macet sector perumahan di AS, dalam beberapa minggu ini menggegerkan dunia usaha diseluruh dunia, termasuk di Indonesia. Ini menunjukkan bahwa imperialis AS benar-benar menjadi pimpinan imperialis di dunia. Berbagai upaya mereka lakukan untuk mengatasi krisis ini, mulai dengan menurunkan suku bunga, memutihkan kredit macet, dan memberikan intensif pajak bagi kalangan menengah ke bawah. Para pimpinan negara imperialis yang lain (Eropa, Australia, Cina, Jepang) juga tidak tinggal diam, mereka menggelar pertemuan G-7 di Tokyo untuk membantu mengatasi krisis. Dan pada pertengahan Nopember ini, Negara G-20 juga menggelar pertemuan serupa yang pada intinya bagaimana mereka bisa selamat dari ancaman krisis. Indonesia dalam hal ini SBY, sebagai pelayan setia imperialis, juga ambil bagian dalam pertemuan tersebut.

Krisis yang terjadi di negeri imperialis tentu saja berdampak pada kaum proletar di negeri imperialis. Kehidupan mereka semakin lama juga semakin merosot. PHK akan terus berlangsung terutama di industri yang bergerak dalam sector Otomotif, Telekomunikasi, financial, dan juga manufaktur. Baru-baru ini, perusahaan financial di AS Citigroup akan mem PHK karyawannya sekitar 52.ribu buruh yang akan di PHK, dari total buruh sekitar 375 ribu. Perusahaan otomotoif AS (General Motor, Ford), meminta pada pemerintah untuk membantu dengan melakukan penjaminan (Bailout), tapi cara ini juga akan mengundang resiko. Cina juga demikian, walaupun dengan cara yang berbeda. China tidak akan menaikka upah minimum buruh dengan alasan adanya kenaikan bahan baku, menurunnya permintaan dari AS, dan apresiasi mata uang yuan. Pemerintah Cina merangsang dengan menggelontorkan uang sebesar USD 586 Miliar. Seiring dengan adanya krisis, pengangguran di negeri imperialis juga mengalami kenaikan. Menurut IMF dan Bank dunia pengangguran di AS 6, 5%. Di hongkong melonjak jadi 3,5%. Di inggris diperkirakan tahun 2010 akan naik jadi 2,9 juta orang, jerman 7, 5 %, jepang 4 %.

Data Tentang PHK Besar-Besaran tahun 2008 Di Negri Imperialis Akibat Krisis Imperialisme
No Nama perusahaan Sektor Jumlah Buruh Yang di PHK Tanggal
1 Commerzbank AG Finansial 9.000 buruh 1 September
2 GMAC LLC Auto Finance 5.000 buruh 3 September
3 Renault Otomotif 6.000 buruh 9 September
4 Stora Enso Kertas 3.150 buruh 10 September
5 Hewlett Packad TI 24.600 buruh 15 September
6 Alitalia Penerbangan 3.000 buruh 15 September
7 Federal Mogul Suku cadang 4.000 buruh 17 September
8 Telecom Italia Telekomunikasi 5.000 buruh 19 September
9 Akzo Nobel Manufaktur 3.500 buruh 28 September
10 Volvo Otomotif 3.600 buruh 8 Oktober
11 Barclyas Financial 3.000 buruh 10 Oktober
12 National City Financial 4.000 buruh 21 Oktober
13 Goldman Sachs Financial 3.300 buruh 23 Oktober
14 Xerox Corp Teknologi 3.000 buruh 23 Oktober
15 Chrysler Otomotif 5.000 buruh 24 Oktober
16 Whiripool Appliances 5.000 buruh 28 Oktober
17 Yrc Wordwide Inc Otomotif 3.750 buruh 29 Oktober
18 Motorola Ponsel 3.000 buruh 30 Oktober
19 American Express Financial 7.000 buruh 30 Oktober
20 Chtpz Group Pipa baja 4.900 buruh 7 Nopember
21 DHL Express Transportasi 9.500 buruh 10 Nopember
22 British Telcom Telekomunikasi 10.000 buruh 13 Nopember
23 Citigroup Financial 52.000 buruh 18 Nopember
Data diambil dari jawa pos pada tanggal 18 Nopember 2008 .


Krisis yang terjadi di tubuh imperialis jelas berdampak pada negeri setengah jajahan. Ini dikarenakan kedudukan negeri ini dihadapan imperialis dijadikan penyuplai bahan baku, penyedia tenaga kerja untuk perusahaan mereka dan sebagai pasar mereka. Industri di Indonesia sangat rentan dengan situasi pasar global, seperti yang hari ini tengah terjadi. Sektor yang mendapatkan ancaman di tengah krisis sekarang ini antara lain sektor perbankan, industri logam, tektil-sepatu-sandang-dan kulit, furnitur, olahan makanan (udang). Banyak diberitakan bahwa ada penurunan volume ekspor dari Indonesia ke AS dan eropa, seperti perusahaan mebel. Sekor UMKM furnitur, sparepart otomotif, peralatan rumah tangga serta makanan non olahan mulai mengalami penurunan 30 hingga 50%. Menurut Ketua Forda UKM Jatim Nur Cahyudi, UMKM yang terimbas krisis adalah usaha ekspor langsung dan usaha sub kontrak dengan perusahaan eksportir. Kondisi penurunan itu mulai terjadi pada dua bulan lalu. Jepang memberikan kontribusi sebesar 14,41 persen. Sementara Amerika Serikat merupakan negara tujuan ekspor kedua terbesar dengan kontribusi 12,49 persen. Kedua negara itu kini mulai membatasi produk impor. Dampaknya terjadi pengurangan tenaga kerja (PHK), atau bisa jadi tetap mempertahankan tenaga kerja tapi dengan upah yang dikurangi.

Gabungan Perusahaan Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia (Gamma) Ahmad Safiun, industri baja mengurangi kapasitas produksi sebesar 20-30 persen. Hal itu terjadi sejak krisis finansial global. Produsen kesulitan mengimpor karena harus menyediakan jaminan 100 persen untuk pengajuan L/C (letter of credit) ke bank. pengurangan produksi terpaksa dilakukan akibat berkurangnya proyek properti dan konstruksi akibat merosotnya daya beli. Hal ini imbas dari kenaikan suku bunga sehingga menurunkan daya beli konsumen. Apalagi, perbankan diinstruksikan untuk memperketat KPR (kredit pemilikan rumah).

Dalam kondisi persaingan pasar yang ketat dan krisis yang melanda AS, PT Alumindo Light Metal Industry Tbk (ALMI) bertekad untuk mempertahankan ekspor produk aluminiumnya ke negara adidaya tersebut. Salah satu strategi anak perusahaan Grup Maspion itu adalah menekan harga jual agar tetap kompetitif. Menurut CEO Grup Maspion Alim Markus, AS merupakan pasar yang sangat penting bagi ALMI. Sekitar 74% dari seluruh ekspornya ditujukan ke negara tersebut.Karena itu, pihaknya berusaha mengantisipasi perkembangan ekonomi di AS dengan menurunkan harga jual produk alumunium. Bahkan, harga produk ALMI termasuk yang paling rendah di Asia. Strategi tersebut dimaksudkan agar buyer tetap berkomitmen membeli produk Indonesia.Dia menuturkan, ekspor ke Amerika saat ini tidak terlalu menguntungkan. Marjin yang diperoleh tidak terlalu besar karena itu pihaknya harus menekan ongkos kerja agar harga jual kompetitif.

Di sisi lain, akibat over produksi yang dialami oleh imperialis, sektor perdagangan dan jasa yang dikelola oleh pengusaha besar mengalami peningkatan. Pertumbuhan pesat mall dan berbagai pusat perbelanjaan modern di Jakarta menghambat perkembangan pasar tradisional."Laju pertumbuhan mall mencapai 25% setiap tahunnya, sementara laju pertumbuhan pasar tradisional hanya lima persen. Perkembangan pasar modern memang didukung oleh pemerintah dengan mengeluarkan perpres nomor 112 tahun 2007 tentang penataan pasar. Di jawa timur perkembangan terjadi di kota-kota besar seperti di Surabaya (Carrefour, city of tomorrow, Giant, royal plazza), Malang, Sidoarjo. Ini berarti buruh yang dipekerjakan di sector ini mengalami peningkatan..Sejauh mana tingkat kesejahteraannya itu yang kita belum tahu…? Tapi ditengah rendahnya daya beli masyarakat tentu saja, persaingan mereka akan semakin ketat dalam memperebutkan konsumen.

Komitemen Sby-Kalla terhadap tuannya/imperialis dalam melakukan pembangunan infrastruktur (jalan toll, lapangan terbang) dibuktikan dengan dinaikkanya anggaran bagi Dephub sebesar 300% selama 3 tahun ini. Sementara pada yahun 2007- 2008 kenaikan anggaran sebesar 67%. Salah daerah yang akan menjadi sasaran adalah jawa timur. Di jawa timur rencananya akan dibangun jalan tol sepanjang 580,7 Km dengan lahan 28,94 juta Ha. Investasi yang dibutuhkan sekitar 35 T, dan 5, 5 T untuk pembebasan lahan. Menurut pemerintah dasarnya adalah Pepres 36. dapat dipastikan akan lebih banyak petani yang akan kehilangan lahan dan kehilangan penghasilan. Pembangunan infrastruktur ini dijadikan salah satu upaya untuk mengatasi krisis, harapannya dengan banyaknya proyek yang dijalankan, akan sedikit menggerakan sektor riel, seperti pabrik baja/besi, semen, kayu, dll. proyek ini juga diharapkan mampu menyerap tenaga kerja yang nagnggur. Tapi karena sifat pekerjaannya yang tidak kontinyu, tentu saja proyek-proyek ini tidak bisa menolong pemerintah untuk mengatasi masalah pengangguran. Ini dibuktikan dengan tender yang dilakukan pemerintah pada bulan oktober 2008 untuk pembangunan jalan tol.Delapan ruas jalan tol yang siap di tawarkan ke investor yaitu, ruas tol Pandaan - Malang Jawa Timur senilai Rp 2,53 triliun dengan panjang 37 kilometer (km), Medan - Binjai Sumatera Utara senilai Rp 1,1 triliun dengan panjang 15,8 km, Palembang - Indralaya Sumatera Selatan senilai Rp 1,05 trilin dengan panjang 22 km, dan Tegineneng - Babatan Lampung senilai Rp 2,73 triliun dengan panjang 50 km. Keempat ruas tol ini merupakan bagian dari 11 tol yang harus ditender ulang karena minimnya investor yang ikut tender pada awal tahun lalu.Sementara, empat ruas tol lainnya adalah ruas Cileunyi - Sumedang -Dawuan senilai Rp 3,95 triliun dengan panjang 58,5 km, ruas Medan -Kualanamu - Tebing Tinggi senilai Rp 4,4 triliun dengan panjang 60 km, Pasir Koja - Soreang senilai Rp 1,02 triliun dengan panjang 8,3 km, dan ruas Sukabumi - Ciranjang senilai Rp 1,86 triliun dengan panjang 31 km. Nilai total pembangunan ke-8 proyek tol itu mencapai Rp 18,64 triliun dengan panjang mencapai 282,6 kilometer.Harapan pemerintah untuk mengundang investor (terutama investasi disektor riel) dengan menyediakan infrastruktur juga akan menemui kegagalan karena krisis di tubuh imperialis yang berpengaruh pada sektor industri di jawa timur. Dalam kunjungannya ke Jatim, kepada para calon investor akan ditawarkan sejumlah peluang investasi di bidang infrastruktur seperti pembangunan pembangkit tenaga listrik, jalan tol Waru-Mojokerto-Kertosono, Waru-Wonokromo-Tanjung Perak, Gempol-Pandaan-Pasuruan, dan Jembatan Surabaya-Madura (Suramadu).


Penghidupan Massa Buruh dan Gerakan Buruh di Jatim


Rezim Sby-Kalla semakin membuktikan anti terhadap kaum buruh dan sebaliknya menjadi kaki tangan imperialis. Belum setahun menaikkan harga BBM sebesar 28 % yang dampaknya sampai hari ini masih mencekik kaum buruh, baru-baru ini tanggal 26 Oktber rezim SBY-KALLA mengeluarkan SKB 4 menteri yang isinya melarang buruh untuk mendapatkan upah yang layak, dengan alasan untuk kenyamanan kerja dan dunia usaha. Tentu saja alasan ini adalah alasan yang sangat tepat ditengah krisis ekonomi yang melanda indonesia akibat krisis di negeri tuanya(impe AS). Rakyat sekarang semakin tahu dengan kepalanya sendiri bagaimana sesungguhnya watak dari Sby-Kalla.

Kita pahami bahwa industri yang dibangun oleh pemerintah indonesia adalah industri yang tidak mandiri, tergantung dengan pasar luar negeri, bahan baku di impor dari luar, modal dan mesin juga demikian. Jadi bisa kita perkirakan ketika siatuasi sekarang imperialisme mengalami krisis yang tidak pernah bisa sembuh, dampak apa yang diterima oleh buruh-buruh di indonesia. Ancaman PHK pasti terjadi dengan alasan permintaan turun, upah buruh akan dikurangi dengan dalih bahan baku harganya naik, jam kerja buruh akan diperpanjang untuk melipatgandakan nilai lebih yang mereka dapat.

Masalah utama dalam perburuhan adalah soal upah dan jam kerja. Kenaikan upah per tahun yang dilakukan oleh pemerintah dan pengusaha sama sekali tidak memperhatikan kebutuhan buruh untuk hidup layak. Contoh di jawa timur, kenaikan upah tahun 2008, tidak melebihi 6 % dari upah tahuyn 2007. tapi kenaikan harga-harga kebutuhan pokok naik 15-20% apalagi saat dinaikkannya harga BBM. Seorang buruh yang berkeluarga dengan 2 anak, dan istrinya juga bekerja saja upah 1 minggu tidak cukup untuk membiayai kebutuhan keluarga dalam 1 minggu. Dan banyak kita temukan perusahaan yang membayar upah buruh di bawah UMK pada buruhnya.

Upah yang rendah ini kemudian membawa konsekuensi yang beragama. Seringkali situasi ini dimanfaatkan oleh perusahaan dengan merayu kepada buruh agar bekerja lebih keras mencapai target perusahaan untuk mendapatkan bonus, komisi, atau apapun yang bisa merangsang buruh agar bisa memforsir tenaganya. Tentu saja yang diuntungkan adalah pengusaha. Karena dia mendapatkan nilai lebih yang berlipat dari tenaga buruh yang terserap dalam barang dagangannya. Adanya bonus, atau komisi sebenarnya juga mengancam persatuan buruh, karena akan membuat anatara buruh kurang peduli nasib kawannya. Sementara itu komisi yang diterima oleh buruh sama sekali tidakbisa membuat hidup buruh jadi sejahtera di zaman seperti ini. Selain itu kerap kali, buruh diminta untuk bekerja lebih dari 8 jam (lembur). Di 2 perusahaan yang kita temui 1 hari itu bisa lembur 4-5 jam. Apalagi kalau permintaan meningkat, maka lembur menjadi pekerjaan wajib yang harus dilakukan oleh buruh. Kenapa buruh mau saja disuruh lembur? Pertama, karena upah yang rendah ini menuntut dia mendapatkan upah lebih dari biasanya agar kebutuhannya tercukupi, padahal juga tidak cukup. Jadi lembur itu walaupun dalam undang-undang ketenagakerjaan bukan suatu pekerjaan yang wajib, tapi karena upah yang rendah, akhirnya menjadi wajib dilakukan juga bagi buruh, bahkan ada buruh yang menggerutu kalau tidak ada lembur. Akibat lain dari upah murah, buruh tidak kerasan kerja di pabrik akhirnya mengundurkan diri, pencurian barang-barang perusahaan oleh buruh, buruh menyambi kerja lain di luar pabrik yang tentunya juga menghabiskan waktu buruh untuk istirahat dan bersosialisasi dengan teman dan keluarganya. Situasi seperti ini terjadi karena buruh tidak mengerti kedudukan dia dalam pabrik dan bagaimana perusahaan menghisap tenaga mereka. Efeknya buruh akan terbatas waktu dan tenaganya apabila diajak memikirkan nasibnya sendiri dan diajak berjuang dalam organisasi.

Masalah lain terkait dengan sistem kerja kontrak dan out sorching. Sistem kerja ini menjadi satu-satunya pilihan yang paling mungkin di tengah produksi yang tidak menentu akibat krisis. Diperkirakan sistem kerja kontrak akan semakin luas dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. Sementara itu, buruh yang hubungan kerjanya dengan perusahaan bersifat kontrak dan out sourching, relatif kesejahteraannya lebih rendah dari buruh tetap. Biasanya mereka tidak mendapatkan tunjangan apapun, yang mereka dapat hanya upah pokok. Tapi banyak juga yang menerima upah di bawah UMK, seperti di Bimoli, MPS sampurna, restoran, dll. Buruh kontrak mengalami penindasan sudah sejak dia pertamakali tanda tangan kontrak. Di dalam perjanjian kontrak itu disebutkan apa saja yang diterima oleh buru dan tindakan apa saja yang tidak bileh dilakukan oleh buruh kontrak. Mereka banyak dipekerjakan di jenis pekerjaan utama dalam pabrik, tidak seperti yang diatur dalam aturan ketenagakerjaan yang mereka bikin, bahwa buruh kontrak hanya pada jenis pekerjaan yang sifatnya membantu dan musiman. Dalam soal politik di pabrik, buruh kontrak kedudukanyya lebih asor dari buruh tetap, karena dia diancam tidak diperpanjang kontraknya kalau neko-neko dengan perusahaan. Walaupun di dalam UUK tidak ada pasal yang mengatakan bahwa buruh kontrak tidak boleh berorganisasi, tapi karena kedudukanya seperti itu, maka membuat mereka lebih sulit diorganisasi daripada buruh tetap. Walaupun di beberapa kawan sudah ada yang mampu melakukan pengorganisiran terhadap buruh kontrak-out sourching.

Dan tentunya, seiring dengan semakin tajamnya krisis yang alami oleh imperialis, maka akan semakin reaksioner saja mereka akan mengahadapi tuntutan kaum buruh, sekecil apapun tuntutan yang disampaikan. Lembaga Peradilan Buruh (Disnaker. PPHI. MA) semakin tidak berguna dihadapan buruh. Buruh akan semakin tahu dengan pengalamannya sendiri, siapa yang dapat dipercaya. Dan gerakan buruh reformis (SPSI, SBSI, SPN, dll), lama kelamaan akan kelihatan ketidakmampuan mereka menyelesaikan problem-problem perburuhan, juga kalangan Trotkys. Jadi, yang penting di tahun-tahun yang akan datang adalah bagaimana kita bisa membangun serikat buruh yang betul-betul kuat dan besar. Tidak hanya besar saja tapi dalamnya keropos. Hanya dengan edukasi-edukasi yang regular, mulai dari anggota sampai pimpinan, kesenjangan teori dan praktek bisa dikurangi. Tidak adanya kritik oto kritik dari bawah, tidak lain karena itu pula. Gerakan buruh harus punya perspektif yang jelas, dan gerakan buruh harus berani keluar dari perspektif ala NGO.

* adalah pimpinan DPD.GSBI Jawa Timur

Posting Komentar

Silahkan tinggalkan komentar dan jangan meninggalkan komentar spam.

emo-but-icon

Terbaru

Populer

Arsip Blog

item